Tingkatan seorang muslim

Seorang Muslim hendaknya berilmu sebelum mengamalkan apa yang ia ketahui, kemudian mendakwahkannya

Keutamaan Shalat Isroq

Setiap muslim tentunya menginginkan pahala yang besar dari setiap ibadahnya, salah satunya shalat isroq yang dilalaikan pada saat ini

Tips menghafal Al Qur'an bagi orang sibuk

Kurangnya pengetahuan kita mengenai manajemen waktu membuat kita belepotan dalam menghafal.

Bunga Yang Istimewa Hanya untuk Yang Istimewa

Allah telah menjamin bagi orang-orang yang selalu memperbaiki diri, dengan pasangan yang memperbaiki diri. begitu juga yang Istimewa sebagaimana diibaratkan cermin

Tips Menjemput Jodoh

Jodoh adalah persoalan yang sensitif bagi ereka yang merasa berumur, mari mempersiapkan diri

Tampilkan postingan dengan label Syabab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syabab. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 September 2022

Keistiqomahan

Duri di jalan tak selamanya 
namun amal akan kekal
sesiapa yang menyingkirkan duri maka ia mendapatkan balasan yang kekal 



Minggu, 04 Oktober 2015

Kampanye Kondom dan Melestarikan Zina

Segala puji bagi Allah, Rabb yang telah menetapkan yang halal dan haram untuk kebaikan semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Sudah ada rencana dari sebagian orang saat ini untuk melakukan kampanye penggunaan kondom karena melihat fakta kenaikan praktek aborsi di kalangan remaja serta peningkatan jumlah penderita penyakit seks menular. Penggunaan kondom dinilai bisa mengurangi ekses buruk dari hubungan seks yang tidak aman, katanya. Dan kampanye ini menyasar kelompok seks beresiko yaitu para remaja.
Muslim.Or.Id menganggap penting sekali membahas masalah kampanye ini karena mengingat seakan-akan zina itu dilegalkan dengan semakin disebarkannya kondom pada para remaja.
Setiap Larangan Mengandung Maslahat
Setiap yang wajib dan yang dilarang pasti dibangun di atas maslahat. Syaikh As Sa’di dalam bait sya’ir qowa’id fiqhnya mengatakan,

الدين مبني على المصالح
في جلبها والدرء للقبائح
Ajaran Islam dibangun di atas maslahat
Ajaran tersebut mengandung maslahat dan menolak mudhorot (bahaya)
Dalil-dalill yang menunjukkan bahwa ajaran Islam mengandung maslahat dan menolak mudhorot (bahaya) adalah sebagai berikut:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al Anbiya’: 107). Jika syari’at itu rahmat, maka konsekuensinya pasti ajaran Islam selalu mendatangkan maslahat dan menolak bahaya.
Begitu pula dalam ayat,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah: 3). Sempurnanya nikmat adalah dengan sempurnanya ajaran agama ini. Dan sebagai tandanya, ajaran ini pasti selalu mendatangkan maslahat dan menolak mudhorot.
Begitu juga dalam berbagai ajaran Islam jika kita tilik satu per satu, kadang diberikan alasan bahwa ajaran tersebut mendatangkan maslahat bagi hamba. Sebagaimana dalam hukum qishash, Allah Ta’ala berfirman,
وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 179).
Allah Ta’ala menjadikan sesuatu halal dan haram pasti ada maslahat di balik itu semua. Kadang maslahat -atau dapat kita katakan hikmah- diketahui, kadang pula samar atau tidak diketahui. Shalat, puasa dan zakat sebagai rukun Islam memiliki maslahat baik yang kembali pada individu maupun masyarakat. Begitu pula syirik, zina, pembunuhan, perampokan adalah suatu yang terlarang dan hal ini pun ada maslahat, tidak begitu saja kita dilarang tanpa maksud apa-apa.
Zina dan Akibatnya
Terkhusus zina, perbuatan ini adalah termasuk dosa besar yang amat berbahaya. Allah Ta’ala dalam beberapa ayat telah menerangkan bahaya zina dan menganggapnya sebagai perbuatan amat buruk sebagaimana dalam ayat,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra’: 32)
Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al Furqon: 68). Artinya, orang yang melakukan salah satu dosa yang disebutkan dalam ayat ini akan mendapatkan siksa dari perbuatan dosa yang ia lakukan.
Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda, “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan, padahal Dia-lah yang menciptakanmu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda, “Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda,
ثُمَّ أَنْ تُزَانِىَ بِحَلِيلَةِ جَارِكَ
Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu.” Kemudian akhirnya Allah turunkan surat Al Furqon ayat 68 di atas.[1]  Di sini menunjukkan besarnya dosa zina, apalagi berzina dengan istri tetangga.
Dalam hadits lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا زَنَى الرَّجُلُ خَرَجَ مِنْهُ الإِيمَانُ كَانَ عَلَيْهِ كَالظُّلَّةِ فَإِذَا انْقَطَعَ رَجَعَ إِلَيْهِ الإِيمَانُ
Jika seseorang itu berzina, maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya). Jika dia lepas dari zina, maka iman itu akan kembali padanya.”[2]
Inilah besarnya bahaya zina. Oleh karenanya, syariat Islam yang mulia dan begitu sempurna sampai menutup berbagai pintu agar setiap orang tidak terjerumus ke dalamnya. Karena ada keadah fikih yang sudah ma’ruf di kalangan ulama, “Perantara menuju haram, maka dihukumi haram.” Maka menyentuh wanita, berdua-duaan dengan lawan jenis, campur baur antara pria dan wanita, memandangi wanita disertai syahwat adalah suatu yang terlarang karena semua perbuatan ini nantinya dapat mengantarkan pada kerusakan yang lebih besar yaitu zina.
Akibat zina jika hukum Islam diterapkan, maka akan dikenai hukuman had. Zina yang dikenai hukuman had di sini adalah jika terjadi perbuatan seks di kemaluan atau di dubur. Jika yang melakukannya adalah orang yang telah menikah, maka keduanya dihukum rajam hingga mati. Jika belum menikah, hukumannya adalah dicampuk 100 kali dan diasingkan dari negerinya selama setahun. Hukum diasingkan di sini bisa tergantikan dengan hukuman penjara untuk saat ini. Hukum had bagi pezina bisa diterapkan jika ada ikrar sebanyak empat kali atau ada saksi sebanyak empat orang yang adil yang menjadi saksi perbuatan zina tersebut. Allah Ta’ala berfirman,
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera” (QS. An Nur: 2).[3]
Jika seseorang mengetahui bahaya zina dan akibatnya, seharusnya setiap orang semakin takut pada Allah agar tidak terjerumus dalam perbuatan tersebut. Rasa takut pada Allah dan siksaan-Nya yang nanti akan membuat seseorang tidak terjerumus di dalamnya.
Seks Beresiko Tetaplah Zina Walau dengan Kondom
Yang haram tetaplah haram. Zina tetaplah zina walau dengan berbagai alasan semisal suka sama suka atau menggunakan alat kontrasepsi untuk hubungan intim. Tidak bisa kita menyatakan yang haram itu menjadi boleh kecuali dengan satu alasan yaitu darurat. Namun ada tiga hal yang dijelaskan para ulama bahwa perbuatan tersebut tetaplah tidak boleh dilakukan walau dalam kondisi darurat, yaitu (1) syirik[4], (2) pembunuhan, dan (3) zina.[5] Jadi tidak bisa seseorang beralasan, “Kita legalkan saja penggunaan kondom bagi para pelaku seks beresiko.” Yang dimaksud pelaku seks beresiko adalah kalangan remaja di luar nikah. Tujuannya melegalkan kondom di sini adalah agar tidak terjadi penyakit seks menular seperti HIV/AIDS. Melegalkan seperti ini sama saja melegalkan zina. Dan alasan seperti itu bukanlah alasan darurat untuk melegalkan kondom bagi para remaja di luar nikah.
Kami tidak habis pikir, kenapa jika ingin menekan penyakit seks pada remaja atau menekan aborsi mesti dengan kondom? Bukankah malah hal ini semakin menambah jumlah seks bebas, alias zina? Walau memakai kondom sekalipun, jika telah bertemu dua kemaluan, tetaplah disebut zina. Taruhlah memakai kondom itu aman dari penyakit seks, namun tidak bisa aman dari murka Allah pada pelaku zina.
Meskipun memakai kondom pula tetap ada resiko bisa “jebol” dan terjadilah apa yang terjadi yaitu hamil di luar nikah. Karena apa yang Allah kehendaki pastilah terjadi, tidak ada yang bisa menghalanginya. Kalau Allah takdirkan hamil, meski memakai kondom sekalipun, hamil pun bisa terjadi. Akhirnya pilihannya aborsi. Sehingga kami menilai menyarankan kondom dalam hal semacam itu, sungguh saran yang tidak tepat.
Didiklah Remaja dengan Pendidikan Agama
Jika ingin menekan penyakit seks, sebenarnya tidak usah berpikir jauh dengan melakukan kampanye kondom, apalagi sampai dikhususkan pada pelaku seks beresiko, alias pelaku hubungan “sex before marriage”, yang tidak lain sama saja dengan zina. Penyakit seks itu bisa ada karena tindak keharaman yang dilakukan. Tidak mungkin Allah menimpakan penyakit seks pada suatu kaum melainkan karena ada sebab yaitu perbuatan dosa yang dilakukan. Bukankah Allah telah berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy Syura: 30). Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
وَالْمَصَائِبُ : بِسَبَبِ ذُنُوبِ الْعِبَادِ وَكَسْبِهِمْ
Musibah itu datang karena sebab dosa yang hamba perbuat dan karena kesalahan mereka.[6] Jadi, penyakit seks seperti HIV/AIDS bisa menular dan akan terus menjalar ke para remaja karena tindak seks bebas yang dilakukan.
Solusi agar musibah penyakit ini terangkat bukanlah dengan menggembar-gemborkan kondom, namun mengajak setiap orang untuk bertaubat dari zina. ‘Ali bin Abi Tholib berkata,
ما نزل بلاء إلا بذنب ولا رفع بلاء إلا بتوبة
Tidaklah musibah itu turun melainkan karena dosa. Dan tidaklah musibah bisa terangkat melainkan dengan bertaubat.[7]
Bagaimana setiap orang bisa bertaubat dan mengetahui zina itu berbahaya? Tentu saja dengan belajar agama. Kalau kondom disebarkan, para  remaja malah nanti akan melegalkan seks bebas karena sudah ada alat pengaman. Sehingga tidak perlu bersusah payah dan mengeluarkan biaya besar untuk menyebarkan kondom ke kalangan remaja atau bahkan sampai masuk sekolah. Kenapa tidak mengambil jalan untuk memberikan porsi lebih dalam pendidikan agama? Ini tentu akan lebih ampuh menekan penyakit seks, bahkan menekan zina atau seks bebas. Karena remaja yang paham agama tentu akan menjadi berakhlak lebih baik. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.”[8]
Sedangkan yang tidak mencintai ilmu agama sama sekali, maka tentu akan jauh dari kebaikan. Sebagaimana Imam Syafi’i pernah mengatakan,
مَنْ لَا يُحِبُّ الْعِلْمَ لَا خَيْرَ فِيهِ
Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya.”[9]
Jika pendidikan agama ini diperhatikan bahkan diberi porsi lebih bukan seperti sekarang ini hanya 2 jam dalam seminggu, tentu keadaan remaja akan menjadi lebih baik. Apalagi ditunjang lagi dengan pendidikan orang tua di rumah dan kesadaran orang tua agar anaknya tidak berperilaku bebas dalam bergaul, niscaya kenakalan seks remaja akan bisa ditekan dengan izin Allah. Namun semua ini bisa tercapai dengan ‘inayah (pertolongan) Allah. Hanya dengan do’a dan tawakkal pada Allah, semua bisa menjadi lebih baik dari sekarang ini.
Karena agama ini adalah nasehat, yaitu selalu menginginkan kebaikan pada yang lain, maka kami sangat berharap suara dari rakyat kecil seperti kami ini bisa tersampaikan kepada para pembesar negeri ini. Hanya kembali kepada Islam dan membuat sadar masyarakat kepada ilmu agama, itulah yang akan semakin membuat negeri dan masyarakat kita semakin baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamm bersabda,
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, mengikuti ekor sapi (maksudnya: sibuk dengan peternakan), ridha dengan bercocok tanam (maksudnya: sibuk dengan pertanian) dan meninggalkan jihad (yang saat itu fardhu ‘ain), maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.[10]
Marilah kita kembali pada agama kita dengan memberikan porsi lebih dalam pendidikan agama. Semoga Allah melepaskan kita dari berbagai musibah yang menimpa negeri ini, memberikan kita pemimpin yang adil dan membawa kebaikan bagi rakyat serta peduli akan agama rakyatnya, semoga pula Allah menganugerahkan negeri kita kebaikan dan keberkahan.
إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali” (QS. Hud: 88).
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 1 Sya’ban 1433 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id


[1] HR. Bukhari no. 7532 dan Muslim no. 86.
[2] HR. Abu Daud no. 4690 dan Tirmidzi no. 2625. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[3] Lihat Manhajus Salikin, 239-240 dan penjelasan dari Syaikh Kholid Al Khosylan dalam Dauroh Kitab Manhajus Salikin di Masjid Ar Rojhi Sya’ban 1433 H.
[4] Para ulama katakan bahwa syirik dengan lisan dibolehkan ketika dalam keadaan darurat namun hati harus tetap dalam keadaan yakin dan beriman. Namun untuk selain lisan tidak diperkenankan walau dalam keadaan darurat.
[5] Faedah dari Dauroh Kaedah Fiqhiyyah bersama Syaikh Prof. Dr. ‘Abdus Salam Asy Syuwai’ir, Sya’ban 1433 H.
[6] Majmu’ Al Fatawa, 1: 42.
[7] Lihat Al Jawabul Kaafi, Ibnul Qayyim, hal. 49.
[8] HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037.
[9] Lihat Mughnil Muhtaj, 1: 31.
[10] HR. Abu Daud no. 3462. Lihat ‘Aunul Ma’bud, 9: 242.


Kamis, 11 Agustus 2011

Kalau Engkau Jantan, Nikahilah Aku !! (jangan cuma mengajak berpacaran !!!!!!)

Jika seorang pria tulus mencintai wanita tentu sang pria berharap sang wanita selalu selamat dan tidak mungkin sang pria secara sengaja mencelakakan wanita.

Kecuali jika sebenarnya hanyalah nafsu yang berkedok cinta maka bisa saja si pria tidak peduli dengan keselamatan wanita asalkan hasratnya terpenuhi, dia tak peduli apakah si wanita akan celaka atau tidak, yg penting dirinya senang.

Pacaran " Oh No"

Betul nggak, sih?
Apa iya, pacaran itu haram?

Cinta Itu Indah, Cinta Itu Anugerah

Duile … puitis banget. Tapi, cinta itu memang indah, kok. Dan cinta memang merupakan anugerah yang dikaruniakan Alloh SWT kepada manusia dan seluruh makhluk penghuni jagad ini. Dengan cinta, kehidupan manusia menjadi berwarna sehingga manusia merasa berbahagia.


Cinta memang bisa tumbuh dan bersemi kapan saja, di mana saja, dan bisa menimpa siapa saja. Kita baru sadar bahwa kita mencintai seseorang ketika kita sudah jatuh cinta. Kita tidak pernah tahu kapan awalnya, tiba-tiba kita sudah terlanjur cinta. Nggak ada tuh ceritanya cinta minta izin dulu kalau mau lewat atau singgah. Yang ada juga main nyelonong aja.


Witing Tresna Jalaran saka Kulina

Hmm … pasti sudah hafal banget, deh, sama pepatah Jawa yang satu itu. Yup! Kurang lebih artinya adalah asalnya cinta lantaran sering bersama. Dalam hal ini, cinta antara dua manusia, baik sesama jenis maupun berlawanan jenis, biasanya dikarenakan mereka ini sering bersama. Ke sekolah atau kampus atau tempat kerja bersama, belajar bersama, mengerjakan tugas bersama, makan bersama, jalan bareng ke mall, toko buku, nonton film, dan sebagainya.

Dari hubungan antarmanusia itu, kemudian muncul emosi yang saling mengikat satu sama lain. Emosi kemudian memunculkan rasa cinta dalam diri manusia.


Hari Gini Nggak Punya Pacar, Apa Kata Dunia?

Begitulah kira-kira anggapan anak muda zaman sekarang. Di mana-mana ada pacaran. Di kalangan masyarakat, anak-anak sekolah, mahasiswa, sampai lingkungan kerja. Pokoknya, di mana saja, deh. Bikin gerah ….

Parahnya, yang pacaran itu bukan hanya mereka yang terbiasa mengenakan you can see dan jeans ketat, yang hobi keluyuran di mall, atau mereka yang belum mengenal ajaran Islam. Di antara pelaku pacaran itu ada pula yang memakai kerudung dan berbusana muslimah. Mereka yang sebenarnya paham bahwa pacaran itu saudaranya zina, kok, tetap melakukannya. Miris, kan?

Memang, saat ini pacaran sudah dianggap sebagai tren. Sehingga jika ada yang tidak berpacaran, akan dianggap aneh. Ditambah lagi dengan pemberitaan media, baik cetak maupun elektronik, yang mengekspos pacaran. Berita seputar gosip artis, sinetron, dan reality show yang mengusung, mendorong, mengompori, bahkan memfasilitasi supaya orang berpacaran. Gila nggak tuh?

Makna cinta pun bergeser menjadi sebatas pacaran saja. Atas nama cinta, jadi longgarlah batasan antara laki-laki dengan perempuan. Dengan dalih cinta, nafsu diumbar bukan pada tempatnya. Mulai dari bertatapan, terus pegangan tangan, terus berpelukan, terus berciuman, terus, terus, terus (kayak tukang parkir) kebablasan, deh. Antara makna cinta dengan nafsu menjadi bias.

Padahal, cinta itu suci, cinta itu murni. Mengapa cinta dijadikan kedok untuk menyamarkan nafsu kebinatangan manusia?


Pacaran = Pengecut

Lho, kok, bisa?

Iya, dong. Kalau pacaran, kan, bisa senang-senang saja, diambil manis-manisnya saja. Kalau nanti sudah asam, apalagi pahit, tinggal putus saja. Seperti kata pepatah, habis manis sepah dibuang. Tebu, dong!

Hubungan macam apa itu? Seenaknya saja putus nyambung putus nyambung (jadi kayak lagu). Itu mempermainkan perasaan orang lain. Jahat tahu! Bikin orang lain sakit hati. Belum lagi yang suka gonta-ganti pacar. Astagfirullah ….

Berbeda dengan pernikahan yang disertai tanggung jawab. Ketika mengarungi bahtera rumah tangga, mereka merasakan kebahagiaan bersama. Lalu, ketika timbul masalah, mereka akan menghadapinya bersama pula. Ibarat kata, susah senang ditanggung bersama.

Ketika menikah, pasangan melakukan perjanjian yang agung dengan Alloh SWT. Tidak sekadar nembak seperti orang pacaran. Jadi, menikah itu menuntut tanggung jawab yang besar. Orang yang tidak mau menikah dan hanya mau pacaran, berarti dia pengecut.

Mungkin ada yang beranggapan begini, “Kami mau melakukan penjajakan dulu. Nanti dululah menikah. Kenapa harus buru-buru? Agresif banget, sih. Jadi orang yang sabar, dong.”

Eits, tunggu dulu! Nggak salah tuh? Justru orang yang berpacaran itu yang agresif dan tidak sabaran. Sampai-sampai, tidak bisa mengendalikan nafsunya sendiri. Buktinya, belum berani menikah, kok, mau pegang-pegang anak orang? Kelihatan, kan, nafsunya lebih gede ketimbang otaknya?

Lagi pula, mungkin saja pasangan yang berpacaran itu merasa bahwa mereka sedang berusaha saling memahami. Tapi, yang terjadi sebenarnya tidaklah demikian. Kenyataannya, orang yang pacaran itu berusaha tampil lebih baik dari yang sebenarnya. Memang tidak ada salahnya memperbaiki diri, malah bagus itu. Tapi, kalau kita lantas menjadi sosok yang bukan diri kita, itu berarti kita sedang membohongi diri kita sendiri. Konyol, kan?

Yang lebih parah adalah ketika terjadi pergeseran orientasi dalam setiap perbuatan dan aktivitas kita. Kita jadi rajin shalat, puasa, pemberani, tekun belajar, giat bekerja, dan lain-lain bukan karena Alloh lagi, melainkan karena si dia. Nah, lho? Kalau semua karena si dia dan untuk si dia, lantas yang kita simpan buat bekal di akhirat apa, dong?

Idealnya, kita berusaha menjadi manusia yang senantiasa memperbaiki diri, baik itu ada si dia maupun tidak. Seluruh perbuatan kita semestinya hanya karena Alloh SWT. Tapi, selama kita masih pacaran, kayaknya hampir mustahil untuk menjadi diri kita yang sesungguhnya.

Teman, ketika seseorang berpacaran, yang tampak adalah yang indah-indah dan baik-baik saja. Setelah menikah, baru kelihatan sisi negatif pasangannya. Jadinya, kecewa. Berbeda dengan pasangan yang menikah tanpa pacaran, mereka akan tampil apa adanya. Sisi positif dan negatif akan tampak secara lebih obyektif.


Jadi???

Sebenarnya, tidak ada salahnya, kok, kalau kita memiliki rasa tertarik terhadap lawan jenis. Itu normal. Justru tidak normal jika kita memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis. Na`udzubillahi min dzalik.

Al-Quran pun mampu memberikan jawaban atas fenomena ini.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Alloh-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Q.S. Ali Imran: 14).

Jadi, memang sudah fitrah setiap manusia untuk memiliki cinta. Karena sumber dari segala sumber cinta adalah Alloh, maka awal dari setiap rasa cinta dan kepada siapa pun rasa cinta itu, harus tetap berpangkal pada-Nya.

Teman-Teman tentu pernah mendengar ungkapan ini, kan? Ana uhibbuki fillah (kalau diucapkan pada laki-laki menjadi ana uhibbuka fillah), yang artinya aku mencintaimu karena Alloh.

Nah, dalam urusan cinta ini, Alloh telah memasang rambu-rambu yang jelas. Misalnya, dalam pergaulan dengan lawan jenis.

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Isra`: 32).

Coba, deh, Teman-Teman baca, resapi, dan pahami kalimat Alloh tersebut. Sedetik, dua detik, tiga detik ….


Yup! Alloh tidak hanya melarang kita berbuat zina, tetapi juga melarang kita mendekati zina. Pacaran sendiri jelas-jelas menjurus ke arah perbuatan zina. Buktinya, banyak yang hamil di luar nikah gara-gara pacaran.

Jadi …


PACARAN = MENDEKATI ZINA = TIDAK BOLEH = HARAM

Lagi pula, dalam berpacaran, sepasang manusia berbeda jenis ini tidak akan lepas dari aktivitas berpelukan (mau nyaingin teletubbies, nih, ceritanya …), berciuman, atau paling tidak berpegangan tangan dan bertatapan. Hayooo, ngaku …!

Dan tahukah, Teman-Teman, bahwa semua itu sudah termasuk zina. Jadi, zina itu bukan making love saja.

Simak, deh, hadits berikut.

“…. Zina mata adalah melihat, zina telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berkata, zina tangan adalah menyentuh, zina kaki adalah berjalan. Zinanya hati adalah ingin dan berangan-angan ….” (HR. Muslim dan Abu Hurairah).

Jadi …

PACARAN = HARAM

Lantas, apakah tidak boleh berteman dengan lawan jenis? Apakah berteman harus dengan sesama jenis saja?

Teman, tidak ada yang salah dengan yang namanya bergaul. Siapa, sih, manusia yang bisa hidup sendirian? Setiap orang pasti ingin mempunyai teman. Karena menurut pelajaran kewarganegaraan (dulu PPKn, dulunya lagi PMP), manusia adalah makhluk sosial.

Bahkan, Alloh Swt berfirman:

“Hai, manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal ….” (Al-Hujurat: 13).

Jadi, bergaul dengan siapa saja, mah, sah-sah saja, atuh. Seperti yang Alloh firmankan, manusia memang diciptakan ada dua jenis, laki-laki dan perempuan. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari pun kita tidak mungkin berteman dengan laki-laki saja atau perempuan saja.

But …, ada yang perlu diperhatikan ketika kita berteman dengan lawan jenis. Apaan tuh? Jaga jarak aman, dong! Cukup berteman biasa saja. Kita berhubungan dan bergaul sebatas keperluan yang penting-penting saja pada setiap kondisi. Oke?


Mutusin Doi? Hiks, Hiks, Hiks …
Kita sudah membicarakannya bersama-sama dan dengan baik-baik (kayak musyawarah saja). Kita juga sudah sama-sama tahu dan sepakat (yang tidak sepakat, awas! hehehe …) bahwa PACARAN ITU HARAM. Jadi, jauh-jauh, deh, sama yang namanya pacaran.

Nah, bagi yang terlanjur pacaran, mesti bagaimana? Tidak perlu bingung. Stop pacaran dan bertaubat kepada Alloh SWT yang telah menciptakan kita.

Biar lebih ngeh, ini dia langkah-langkah yang mungkin bisa Teman-Teman tempuh dalam rangka memutuskan si doi.

1. Cari tahu manfaat dan kerugian pacaran. Dengan mengetahui dan menyadari kerugian-kerugian yang akan dan mungkin akan ditimbulkan oleh aktivitas pacaran, Teman-Teman akan lebih mudah untuk memutuskan si doi.

2. Bertekad kuat. Kalau sudah bertekad untuk putus hubungan dengan nyamuk, eh, maksudnya putus sama doi, Insya Alloh tinggal pelaksanaannya saja. Karena itu, Teman-Teman membutuhkan lingkungan yang mendukung tekad itu. Salah satunya bisa dengan bergaul bersama orang-orang yang selalu mengingatkan kita pada kebenaran dan kebaikan.

3. Katakan putus pada si dia

“Kita putus!”
“Kenapa?”
“Pokoknya, kita putus. Pacaran tuh dosa, tahu!”

Waduh! Tentu saja tidak perlu sesadis dan sekejam itu dalam mengatakan kata putus. Katakanlah baik-baik bahwa dalam Islam tidak ada istilah pacaran. Ada, sih, tapi nanti setelah menikah.

Memang hal ini berat untuk dijalani. Tapi, lebih baik berat sekarang daripada berat nantinya, MBA misalnya. Lebih berat lagi, ketika kita harus mempertanggungjawabkannya di akhirat. Iya, kalau di dunia, sih, kita masih bisa ngeles-ngeles karena begini, karena begitu, karena faktor ini, faktor itu. Nah, kalau di akhirat, mana mungkin?

Kalau si doi tidak mau menerima, santai sajalah. Dia, toh, bukan suami/istri dari Teman-Teman. Dia cuma pacar. Dan pacaran itu hubungan yang ilegal. Kalau yang legal namanya pernikahan.


Sadis bin kejam, ya?

Begini, deh. Pertama, batasi pertemuan dengan sang mantan. Terus, kurangi intensitas SMS dan telepon. Insya Alloh, lama-lama perasaan di antara kalian akan memudar. Jangan khawatir. Kalau memang jodoh, tidak akan lari ke mana, kok.

Nah, Teman, jangan sedih gara-gara ditinggal pacar atau karena meninggalkan pacar. Dunia ini bukan hanya milik kalian berdua saja. Coba tengok saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Mereka kehilangan harta, tempat tinggal, bahkan orang-orang yang mereka kasihi. Ayah, ibu, anak, kakak, adik, tetangga, serta sanak famili. Kayaknya, putus sama pacar nggak ada apa-apanya, deh, dibandingkan dengan penderitaan mereka. So, don`t be sad!

Teman, jangan takut dan cemas kalau tidak punya pacar. Sudah terbukti bahwa pacaran tidak menjamin seseorang menemukan jodoh terbaik mereka. Berbahagialah kita yang ikhlas menjadi jomblo karena Alloh.

Bukankah rezeki, jodoh, dan ajal sudah ditetapkan oleh Alloh? Kita percaya pada Alloh, kan? Ketika kita bersikeras untuk pacaran demi mendapatkan jodoh yang pas, berarti secara tidak sadar, kita sudah meragukan janji Alloh tersebut.

Kita memang harus berusaha untuk mencari jodoh yang terbaik, tapi bukan dengan pacaran caranya.

Jadi, kalau kita ingin mendapatkan jodoh yang terbaik, tentu dari sekarang kita harus memperbaiki diri terlebih dahulu.

Tak lupa kita juga harus senantiasa memohon kepada Alloh agar selalu berada dalam lindungan-Nya.

“Ya Alloh, aku berlindung pada-Mu dari ilmu yang tidak berguna, dari hati yang tak pernah tenang, dari doa yang tak didengar, dan dari nafsu yang tak pernah kenyang.” (HR. An-Nasai).



So, mulai sekarang, kita ganti statement-nya menjadi:

HARI GINI MASIH PACARAN, APA KATA DUNIA???
sumber:
http://riyad-afif.blogspot.com/2010/11/pacaran-itu-haram-betul-ngga-siih.html

Jumat, 17 Desember 2010

Tanda Ketika cinta Menyapamu

oleh Zaenal Arifin pada 11 Desember 2010 jam 23:55
Sebagai seorang manusia biasa , tentu kita pernah mengalami perasaan jatuh cinta. Dalam cinta ada tanda-tandanya. Orang cerdik mampu mengenalinya. Dan orang yang cerdas mampu menunjukannya. Dan orang yang sedang dirundung cinta, hanya mampu merasakanya.
Tanda-tanda cinta itu, lahir sebelum api cinta dinyalakan, dan sebelum sumbu cinta dikobarkan. Sesungguhnya, ikatan cinta membutuhkan perjuangan, pengorbanan, dan ketulusan yangluar biasa agar cinta sejati bersemi indah nan kukuh, cinta tak gampang roboh manakala badai datang menerjang.
1. Pandangan mata.
Mata adalah jendela jiwa. Melalui pandangan mata rahasia jiwa dapat terungkap, pesan-pesan jiwa beserta kedalaman isinya bisa disingkap. Betapa sering kau saksikan pandangan orang yang jauh cinta tak akan berpaling dari orang yang dicintainya. Matanya bergerak seiring dengan gerakan orang yang dicintainya. Pandangan mata mengarah pada apa yang dipandang sang kekasih tercinta.

Kamis, 25 November 2010

Untukmu wahai para Pemuda

oleh Zaenal Arifin pada 03 Oktober 2010 jam 23:56
Aku tidak tahu darimana aku ingin memulai perbincangan ini. Namun aku ingin menyitir sebuah hadits terlebih dahulu sebelum aku memulainya yaitu:

Ya ma'syaros syabaab manistatoo'a minkumul baa a fal yatazawwadu fainnahu aghodhu lil basrh wa ahsanu lil farj fa illamyastati' fa 'alaihi bisshoum fainna lahu wijaa un

 artinya:
Wahai sekalian  pemuda, barangsiapa diantara kalian mampu menyediakan sarana untuk menikah, hendaklah kalian menikah, karena pernikahan itu lebih dapat menahan pandangan mata dan lebih dapat menjaga kemaluan. Barangsiapa yang beluam mampu , maka hendaklah dia berpuasa karena puasa itu merupakan penawar syahwat baginya (Dari Ibnu Mas'ud dalam kitab syarah hadist2 pilihan) 

Dari Hadits ini kita mulai paham wahai para pemuda bahwa sepintar-pintarnya, sekuat-kuat, dan sehaleh-shalehnya seorang pemuda namun dia tidak bisa memungkiri bahwa ia butuh dengan  makhluk yang Rasulullah Shalallahu "alaihi wasallam sebutkan keutamaannya dibandingkan dengan kita kaum adam.
tahukah engkau wahai pemuda bahwa dalam hadits diatas menunjukkan kepada kita untuk sesegera mungkin menyempurnakan separuh dari agamanya. Dan bila kita saksikan sekarang ini. sangat menyayat hati bila melihat pemuda yang telah terjatuh dalam lembah kehinaan dengan berbagai maksiat yang mereka jalani serta mengumbar syahwat tidak juga berusaha untuk melaksanakan kewajiban dari agama ini.
dan dalam hadits diatas tergambar jelas untuk menjembatani dari problema seorang pemuda hanya dua yaitu menikah atau berpuasa.
makanya dipercepat
wallahu 'alam